Tulisan ini disarikan dari khotbah Idul Adha 1436 H, Kamis, 24 September 2015, oleh Prof. Dr. Ir. Suwarno, di Institut Teknologi Bandung.
Manusia mulia di sisi Allah adalah manusia yang paling
banyak berbuat kebaikan, manusia yang banyak pengorbanan dalam rangka memenuhi
panggilan Allah. Para nabi, rasul, dan orang-orang shalih yang banyak
dikisahkan dalam Alquran menjadi mulia karena mereka memenuhi panggilan Allah
dan menginfakkan apa yang mereka cintai dengan didasari rasa ikhlas karena
Allah.
Manusia memang secara fitrah dihiasi dengan kecintaan kepada
perhiasan dunia, termasuk wanita/lelaki yang dicintainya, anak-anak, dan
keluarga. Allah berfirman dalam surat Ali Imran (3) : 14 yang artinya,
“Dijadikan indah pada
(pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita,
anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan,
binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia,
dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”
Ibadah kurban berawal ketika Nabi Ibrahim a.s. mengorbankan
anak yang didambanya sejak lama, yang didapatkan dengan banyak pengorbanan,
yang telah dididik dengan penuh kasih sayang. Ismail merupakan salah satu
puncak kecintaan terhadap perhiasan dunia bagi Ibrahim. Pengorbanan Ismail
mengandung pelajaran yang sangat dalam. Ismail adalah simbol, simbol dari
segala yang dimiliki dan dicintai dalam hidup ini. Kalau Ismail miliki Ibrahim adalah putra kandungnya
sendiri, maka bagi orang lain sosok Ismail bisa jadi adalah diri sendiri, anak
dan istri, harta, pangkat, kedudukan, dan jabatan. Kecintaan berlebih pada
Ismail-ismail ini yang kerap membuat iman manusia goyah dan lemah untuk dapat
mendengar dan melaksanakan perintah Allah.
Allah telah memberikan peringatan kepada manusia agar
kecintaan terhadap dunia yang disimbolkan sebagai harta dan anak tidak
menjadikan lupa dari berdzikir kepada Allah.
“Hai orang-orang yang
beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu menjadikan kamu lalai dari mengingat
Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang
merugi.” (Alih bahasa QS Al Munafiqun 9)
Nabi Ibrahim a.s. memberikan tauladan, inspirasi, dan pelajaran
yang tiada habis-habisnya dan senantiasa aktual. Oleh karena itu,
sepantasnyalah orang beriman mengambil pelajaran dari kisah teladan Nabi
Ibrahim a.s. Mari kita lihat beberapa keteladanan yang indah dari sekian banyak
keteladanan Nabi Ibrahim a.s.
Pertama, Nabi
Ibrahim a.s. adalah sosok Bapak Tauhid, ulil
albab yang cerdas dan rasional. Beliau mencari Tuhan dengan ilmu dan
rasionalitas sehingga sampai pada keyakinan yang sangat kuat. Fenomena alam
semesta, seperti terbit dan tenggelamnya matahari, bulan dan bintang, serta
silih bergantinya siang dan malam telah menginspirasi dan memperkuat keyakinan
dan keimanan kepada Allah SWT.
Kedua, Nabi
Ibrahim adalah sosok pekerja keras, yang tidak henti-hentinya bekerja,
berdakwah, dan tidak putus asa dengan usaha dan doa. Beliau pun tetap berdoa
untuk mendapatkan keturunan yang saleh meskipun usia sudah lanjut, lebih dari
70 tahun. Doa yang tulus dan sungguh ini langsung dijawab dan dikabulkan oleh
Allah. Nabi Ismail a.s. lahir pada saat Nabi Ibrahim berusia 77 tahun dari
istri kedua, Siti Hajar. Kemudian pada saat Nabi Ibrahim berusia 91 tahun dan
Ismail berusia 14 tahun, lahirlah putra kedua yaitu Ishaq dari istri
pertamanya, Sarah.
Ketiga, Nabi Ibrahim
adalah hamba yang selalu bersyukur. Beliau memanjatkan puji syukur kepada Allah
atas anugerah anak dan mengajarkan kepada kita bahwa Allah Maha Mengabulkan
doa.
Keempat, Nabi
Ibrahim a.s. menempatkan pendidikan pada tempat yang sangat penting untuk
menyiapkan generasi emas yang kuat sebagai penopang kejayaan umat di masa
depan. Setelah mendapatkan anugerah putra, maka Nabi Ibrahim a.s. memberikan
pendidikan dan pendampingan kepada Ismail di kawasan Makkah. Inilah yang
membentuk kesalehan Ismail. Mereka sangat peduli dengan anak-cucu dan kualitas
generasi yang akan datang.
Maju mundurnya kaum muslimin, jaya dan jatuhnya umat Islam
di masa mendatang sangat ditentukan oleh seberapa kuatnya generasi mendatang
disiapkan oleh generasi yang ada saat ini. Menyiapkan generasi mendatang adalah
tugas dan hendaknya menjadi perhatian setiap generasi. Dengan pendidikan yang
berkualitas maka akan tercipta generasi yang kuat. Allah mengingatkan agar
setiap muslim selalu merasa takut apabila meninggalkan keturunan berupa
generasi yang lemah.
“Dan hendaklah merasa
takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka
anak-anak yang lemah, yang mengkhawatirkan.” (Alih bahasa QS An-Nisaa’ 9)
Kelima, Nabi
Ibrahim adalah sosok pemimpin enterpreneur
yang peduli kepada masyarakat, membangun dan peduli pada negeri dan masa depan
umat manusia. Beliau berani mengambil resik dan keyakinan menempatkan anak dan
istri tercinta di tempat yang gersang, Makkah. Ternyata di kemudian hari tempat
ini menjadi tempat yang sangat makmur, ramai, dan sebagai kiblat bagi kaum muslim.
Nabi Ibrahim memohon kepada Allah untuk agar negeri Makkah sejahtera, aman dan
berkeimanan. Ini adalah contoh kepedulian lintas generasi dan visi jauh ke
depan. Doanya diabadikan dalam Al Baqarah ayat 126, yang artinya,
“Dan ingatlah ketika
Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa,
dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya di antara mereka yang
beriman kepada Allah dan hari kemudian.”
Nabi Ibrahim meyakini bahwa kecerdasan spiritual (spiritual quotient, SQ) berupa hikmah
dan kebijaksanaan adalah sangat penting dalam berkarya besar. Beliau
menginspirasi agar manusia berusaha dan menciptakan karya besar, karya masterpiece berbuat kebaikan yang
banyak, yang bermanfaat bagi satu generasi ke generasi berikutnya. Sehingga
karya besarnya dan jasa-jasanya dikenang oleh generasi di kemudian hari.
Demikianlah sekilas kisah teladan yang inspiratif dari Nabi
Ibrahim a.s. dan orang-orang yang bersama beliau. Semoga kita mendapat kekuatan
untuk mengambil hikmah dan meneladai mereka. Aamiin.